Menurut teori dualisme gelombang-partikel oleh Albert Einstein dan Max Planck, cahaya memiliki dua sifat sekaligus: bersifat sebagai gelombang elektromagnetik (dibuktikan oleh interferensi dan difraksi) dan sebagai partikel foton (dibuktikan oleh efek fotolistrik). Cahaya merambat dengan kecepatan c = 3 × 10⁸ m/s di ruang hampa, yang merupakan kecepatan tertinggi di alam semesta.
380–420 nm Nila
420–450 nm Biru
450–495 nm Hijau
495–570 nm Kuning
570–590 nm Jingga
590–620 nm Merah
620–750 nm
Cahaya memiliki beberapa sifat fundamental yang membedakannya dari gelombang mekanik lainnya dan menjadi dasar dari berbagai fenomena optika:
Hukum pemantulan cahaya (Hukum Snell untuk refleksi): sudut datang (θᵢ) = sudut pantul (θᵣ), keduanya diukur dari garis normal bidang pantul. Terdapat dua jenis pemantulan berdasarkan keadaan permukaan:
🪞 Pemantulan Teratur (Specular)
Terjadi pada permukaan rata/licin (cermin, air tenang). Semua sinar sejajar dipantulkan dengan arah yang sama, menghasilkan bayangan yang jelas dan tajam.
🌫 Pemantulan Baur (Diffuse)
Terjadi pada permukaan kasar (kertas, tembok, aspal). Sinar-sinar yang sejajar dipantulkan ke berbagai arah acak, tidak menghasilkan bayangan yang jelas.
Pembiasan (refraksi) terjadi karena cahaya mengalami perubahan kecepatan saat berpindah dari satu medium ke medium lain yang berbeda kerapatannya. Hukum Snell-Descartes menyatakan:
di mana n adalah indeks bias medium, θ adalah sudut terhadap garis normal.
| Medium | Indeks Bias (n) | Kecepatan Cahaya | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Vakum / Udara | 1,000 | 3,00 × 10⁸ m/s | Referensi standar |
| Es | 1,31 | 2,29 × 10⁸ m/s | Sedikit lebih rapat dari air |
| Air | 1,33 | 2,26 × 10⁸ m/s | Sedang (umum) |
| Minyak Zaitun | 1,46 | 2,05 × 10⁸ m/s | Lebih rapat dari air |
| Kaca Biasa | 1,50 | 2,00 × 10⁸ m/s | Bervariasi 1.45–1.9 |
| Berlian | 2,42 | 1,24 × 10⁸ m/s | Indeks tertinggi alami |
Cermin lengkung (cekung dan cembung) memiliki sinar-sinar istimewa yang digunakan untuk melukiskan pembentukan bayangan secara geometrik. Geser posisi benda untuk melihat perubahan bayangan secara real-time.
🟣 Cermin Cekung (Konkaf)
Permukaan reflektif melengkung ke dalam. Bersifat konvergen (mengumpulkan sinar). Digunakan pada reflektor lampu, teleskop, dan cermin rias.
1. Sinar // sumbu utama → dipantulkan melalui F
2. Sinar melalui F → dipantulkan // sumbu utama
3. Sinar melalui M (pusat) → dipantulkan balik
🟠 Cermin Cembung (Konveks)
Permukaan reflektif melengkung ke luar. Bersifat divergen (menyebarkan sinar). Digunakan pada kaca spion kendaraan dan cermin pengawas.
1. Sinar // sumbu utama → seolah dari F virtual
2. Sinar menuju F virtual → dipantulkan // sumbu
3. Sinar menuju M virtual → dipantulkan balik